Bacaan: Keluaran 23 : 14-19
“Yang terbaik dari buah bungaran hasil tanahmu haruslah kaubawa ke dalam rumah TUHAN, Allahmu. Janganlah kaumasak anak kambing dalam susu induknya.” (Keluaran 23:19) (TB)
“Setiap tahun kamu harus membawa ke rumah TUHAN Allahmu gandum pertama yang kamu tuai. Daging anak domba atau anak kambing tak boleh dimasak dengan air susu induknya.” (Keluaran 23:19) (BIMK)
Apakah yang dimaksud buah bungaran dalam versi LAI dan dalam versi BIMK disebut buah pertama? Buah sulung (bahasa Ibrani: “bikkurim“) adalah bagian pertama dari hasil panen yang wajib dipersembahkan kepada Allah sebagai tanda syukur dan pengakuan atas kekuasaan-Nya (Keluaran 23:19, Imamat 23:9-14). Buah bungaran adalah istilah yang digunakan dalam Alkitab untuk menggambarkan hasil atau konsekuensi dari tindakan atau perilaku seseorang. Istilah ini seringkali digunakan dalam konteks moral dan spiritual.
Dalam Alkitab, buah bungaran dapat memiliki beberapa makna, antara lain makna positif, yakni: 1. Hasil baik dari tindakan yang benar (Amsal 22:8, 11:30). 2. Berkat dan kemakmuran yang diberikan Allah (Ulangan 28:1-6). 3. Kehidupan yang penuh damai dan keselamatan (Yesaya 32:17). Nampaknya poin nomor dua (2) yang paling mendekati makna buah bungaran sesuai dengan konteks pembicaraan kita. Yakni berkat atau kesuburan yang diberikan Allah kepada umatnya dan hasil pertama atau yang sulung seharusnya diberikan kepada Allah sebagai tanda ucapan syukur dan sekaligus mengakui kekuasaan Tuhan atas hasil dan berkat yang kita terima.
Maksud dari persembahan buah sulung, adalah: 1. Mengakui kekuasaan Allah atas alam semesta. 2. Menunjukkan rasa syukur atas hasil panen. 3. Memperkuat hubungan antara Allah dan umat-Nya. Dan inilah konsekuensi dari tidak mempersembahkan buah sulung: 1. Menghina Allah (Maleakhi 3:8-10). 2. Kehilangan berkat Allah (Maleakhi 3:11). 3. Mengalami kemiskinan dan kekurangan (Hosea 4:7). 4. Menghadapi hukuman Allah (2 Tawarikh 24:20-22). Dan hukum rohani ini berlaku sejak disampaikan dalam zaman perjanjian lama sampai sekarang. Karena hukum-hukum rohani Allah berlaku sampai selama-lamanya. (MN)
Refleksi Diri: Bagaimana setujukah anda mengenai hukum rohani buah sulung?
Highlight: Buah sulung sebagai tanda ucapan syukur dan sekaligus mengakui Kekuasaan Tuhan atas hasil dan berkat yang kita terima.
Renungan ini bisa anda dengarkan juga di Radio Suara Akurat. Dan bagi anda yang ingin menjadi donatur Suara Akurat dipersilahkan menghubungi kami di No. HP 08157666660 atau transfer ke BCA Solo no. rek: 3920149463, A/n: Ratna Purnama Indah Hutapea.